
Cara Kerja Alat TENS dan Ultrasound dalam Pengobatan Fisioterapi – Dalam dunia fisioterapi modern, penggunaan alat bantu terapi semakin berkembang untuk mendukung proses pemulihan pasien secara efektif dan aman. Dua alat yang paling sering digunakan adalah TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) dan Ultrasound Therapy. Keduanya memiliki fungsi utama untuk membantu mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan jaringan, serta meningkatkan kualitas gerak pasien. Meski sama-sama digunakan dalam fisioterapi, mekanisme kerja, indikasi, dan manfaat klinis TENS dan ultrasound memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Pemahaman mengenai cara kerja kedua alat ini penting, baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Dengan mengetahui prinsip dasar dan manfaatnya, terapi dapat dijalani dengan lebih optimal dan sesuai kebutuhan kondisi medis. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana alat TENS dan ultrasound bekerja dalam pengobatan fisioterapi serta peran strategisnya dalam rehabilitasi.
Cara Kerja Alat TENS dalam Mengurangi Nyeri
TENS adalah alat terapi yang bekerja dengan mengalirkan impuls listrik bertegangan rendah melalui elektroda yang ditempelkan pada permukaan kulit. Impuls listrik ini ditujukan untuk merangsang saraf sensorik di area yang mengalami nyeri. Tujuan utama dari TENS adalah mengurangi persepsi nyeri tanpa menggunakan obat-obatan.
Secara fisiologis, TENS bekerja berdasarkan teori “gate control”. Ketika impuls listrik dari TENS merangsang saraf sensorik non-nyeri, sinyal nyeri yang dikirim ke otak menjadi terhambat. Dengan kata lain, “gerbang” sinyal nyeri ditutup atau dilemahkan, sehingga otak menerima sinyal nyeri yang lebih sedikit. Hasilnya, pasien merasakan penurunan intensitas nyeri selama dan setelah terapi.
Selain mekanisme gate control, TENS juga merangsang pelepasan endorfin, yaitu zat kimia alami dalam tubuh yang berfungsi sebagai pereda nyeri. Endorfin bekerja dengan cara mengikat reseptor nyeri di sistem saraf pusat, menghasilkan efek analgesik alami. Mekanisme ini membuat TENS efektif untuk nyeri kronis seperti nyeri punggung bawah, osteoartritis, nyeri leher, dan nyeri pasca cedera olahraga.
Pengaturan frekuensi dan intensitas arus listrik pada TENS dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Frekuensi tinggi umumnya digunakan untuk nyeri akut, sedangkan frekuensi rendah lebih sering diterapkan pada nyeri kronis. Fisioterapis berperan penting dalam menentukan parameter yang tepat agar terapi aman dan efektif.
Keunggulan utama TENS adalah sifatnya yang non-invasif, relatif aman, dan minim efek samping. Terapi ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari program rehabilitasi jangka panjang untuk membantu pasien tetap aktif selama proses pemulihan. Namun, TENS bukan bertujuan menyembuhkan penyebab utama cedera, melainkan mengelola nyeri agar pasien dapat menjalani latihan dan aktivitas fungsional dengan lebih baik.
Cara Kerja Ultrasound Therapy dalam Penyembuhan Jaringan
Berbeda dengan TENS yang fokus pada manajemen nyeri, ultrasound therapy lebih diarahkan pada proses penyembuhan jaringan lunak. Alat ultrasound bekerja dengan memancarkan gelombang suara berfrekuensi tinggi ke dalam jaringan tubuh melalui kepala transduser yang digerakkan di atas kulit dengan bantuan gel khusus. Gel ini berfungsi untuk memastikan transmisi gelombang suara berjalan optimal.
Gelombang ultrasound menghasilkan efek termal dan non-termal di dalam jaringan. Efek termal terjadi ketika energi gelombang suara diubah menjadi panas di jaringan yang ditargetkan. Panas ini membantu meningkatkan aliran darah lokal, meningkatkan elastisitas jaringan, serta mengurangi kekakuan otot dan sendi. Kondisi ini sangat bermanfaat pada kasus cedera otot, tendon, dan ligamen.
Sementara itu, efek non-termal ultrasound berkaitan dengan fenomena mikromassage dan kavitasi stabil di tingkat sel. Efek ini membantu mempercepat proses regenerasi jaringan dengan meningkatkan permeabilitas membran sel dan merangsang aktivitas metabolik. Akibatnya, proses penyembuhan jaringan yang rusak dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Ultrasound therapy sering digunakan pada kondisi seperti tendinitis, bursitis, strain otot, cedera ligamen, serta jaringan parut pasca operasi. Dengan penargetan yang tepat, ultrasound mampu menjangkau jaringan yang berada cukup dalam, sesuatu yang sulit dicapai oleh terapi manual biasa.
Pengaturan intensitas, frekuensi, dan durasi ultrasound harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan tujuan terapi. Penggunaan yang tepat dapat membantu mengurangi peradangan, meningkatkan fleksibilitas, dan mempersiapkan jaringan sebelum latihan rehabilitasi aktif. Oleh karena itu, ultrasound biasanya menjadi bagian dari rangkaian terapi, bukan satu-satunya metode pengobatan.
Keunggulan ultrasound terletak pada kemampuannya mendukung penyembuhan struktural jaringan, bukan hanya mengurangi gejala. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada diagnosis yang akurat dan keterampilan fisioterapis dalam mengaplikasikan alat secara tepat.
Kesimpulan
Alat TENS dan ultrasound memiliki peran penting dan saling melengkapi dalam pengobatan fisioterapi. TENS bekerja dengan merangsang sistem saraf untuk mengurangi persepsi nyeri, sehingga pasien dapat bergerak dan beraktivitas dengan lebih nyaman. Sementara itu, ultrasound therapy berfokus pada penyembuhan jaringan melalui efek termal dan non-termal yang mendukung regenerasi dan fleksibilitas jaringan lunak.
Pemilihan penggunaan TENS atau ultrasound tidak bersifat saling menggantikan, melainkan disesuaikan dengan kondisi klinis dan tujuan terapi. Dengan pemahaman yang tepat mengenai cara kerja kedua alat ini, fisioterapi dapat menjadi lebih efektif, terarah, dan berorientasi pada pemulihan jangka panjang pasien.